Menurut Bank Dunia, kelas menengah adalah orang yang menghabiskan US$ 2-20 sehari. Dengan rentang itu maka 56 persen orang Indonesia (sekitar 120 juta orang) dikategorikan sebagai kelas menengah. Batas atas tak perlu diperdebatkan lagi, tapi saya tak habis pikir kenapa dua dolar bisa membuat seseorang dikategorikan sebagai orang kelas menengah.
Jangankan menjadi kelas menengah, bisakah kita hidup dengan dua dolar sehari?
Untuk menguji itu, saya akan mencoba hidup dengan dua dolar atau Rp 18.000 (kasarnya 1 dolar = Rp 9000) pada sebuah hari biasa. Seperti hari ini.
Pengeluaran pertama saya adalah naik angkot ke kantor. Untuk sampai ke kantor saya harus naik Metromini dua kali, seharga Rp 4.000. Saya simpan Rp 4000 untuk pulang nanti, jadi habislah Rp 8.000 untuk biaya transportasi, tinggal Rp 10.000.
Sampai di kantor, untunglah masih punya persediaan oatmeal untuk sarapan. Untuk makan siang, saya beli makan di kanting belakang Plasa Senayan. Tempat makan siang termurah di kawasan kantor saya. Nasi, telur ceplok dan sayur, harganya Rp 7.000.
Mungkin orang yang biasa hidup dengan Rp 18.000 sehari akan menyiasatinya dengan memasak sendiri, atau membawa bekal dari rumah. Tapi karena ini eksperimen saya, saya akan lakukan seperti yang biasa saya lakukan. (Nggak mungkin masak juga sih, belanja bahannya aja bisa menghabiskan seluruh anggaran sehari.)
Sekarang uang saya tinggal Rp 3.000. Makan malam apa yang bisa didapat dengan uang tiga ribu rupiah? Jawabannya cuma satu: mie instan. Uang itu saya belikan indomie, dua bungkus untuk dimasak di kantor.
Tiba waktunya pulang dengan dua metromini. Sial, bis tua yang saya naiki itu masuk ke jalur TransJakarta. Jadi saya nggak bisa turun tepat di tempat saya akan turun tapi harus ikut sampai perempatan berikutnya. (Daripada diturunin di jalur Transjakarta, terus langsung ke tengah jalan. Bahaya banget)
Maka saya harus jalan ke arah kosan, kurang lebih satu kilometer jauhnya. Metromini yang penuh sesak tadi membuat saya haus, lupa nggak bawa bekal minum. Tas berat di pundak, jam sembilan malam, berjalan di bahu jalan karena trotoar dipakai untuk penampungan sampah sebelum diambil truk. Ingin sekali rasanya membeli segelas es teh manis di warung yang saya lewati.
Tapi, Rp 18.000 saya sudah habis. Saya sudah tidak punya uang. Saya hanya bisa terus berjalan, sambil membayangkan segarnya teh dingin mengalir di tenggorokan.
Mungkin begini rasanya. Kita bisa hidup dengan dua dolar atau delapan belas ribu rupiah.
Tapi kita harus menahan semua keinginan lain. Menekan semua kebutuhan lain. Bahkan untuk hal sesederhana es teh.


































