Setelah dua mingguan yang lalu saya mencoba roasting kopi untuk pertama kalinya, lalu satu minggu kemudian saya mencoba roasting kembali dengan alat yang berbeda.
Perbedaannya adalah pada percobaan kedua ini saya menggunakan tembikar untuk roasting, berupa “kendhil” yang tadinya akan saya gunakan untuk mengubur ari-ari anak perempuan saya sekitar 6-7 bulan yang lalu.
Pertama-tama wadah tembikar saya letakkan di atas kompor, setelah mulai menghangat biji kopi saya masukkan dan terus diaduk-aduk agar panasnya merata.

Setelah terdengar suara first cracks, biji kopi terus saya aduk-aduk hingga terdengar suara second cracks dan muncul asap cukup banyak. Segera saja kopi saya angkat dan pindahkan ke tempat lebar sambil diangin-anginkan agar cepat mendingin.
Saat saya tuang biji kopi tersebut, penampakannya kurang menyenangkan. Kopi terlihat kering dan cukup banyak biji yang gosong sehingga nyaris menjadi arang.

Selain kopi yang gosong, banyak juga biji kopi yang gosong hanya di permukaannya saja sedangkan di dalamnya masih lumayan. Nampaknya tembikar (entah dari bahan atau bentuknya) membuat suhu terlalu tinggi dan membuat bagian luar dari biji kopi lebih cepat menghitam. Hasilnya adalah kopi sangat kotor dan tidak menarik untuk dilihat.
Tentu saja saya tidak sepenuhnya menyalahkan tembikar, karena bisa jadi saya menggunakan api terlalu besar

Yang membuat saya sedih adalah sekitar 10-20% dari kopi yang saya roast harus dibuang karena terlanjur menjadi arang. Padahal roasting kali ini jumlah biji kopi yang saya gunakan adalah dua kali lipat dari percobaan pertama.

Terlepas dari penampakan kopi yang kurang indah tersebut, ternyata rasanya masih cukup nikmat dan hampir sama dengan percobaan pertama yang bisa dibilang berhasil. Kekurangan dari hasil roasting kali ini adalah aroma kopinya tidak bisa keluar dengan sempurna, sehingga bau kopinya kurang semerbak.


























































Biasanya saya jarang instal aplikasi aneh-aneh di ponsel tua saya ini. Namun sejak blog ini pindah ke suatu VPS, akhirnya saya membutuhkan sebuah aplikasi untuk mengendalikan server melalui protokol SSH .
Ketika berkendara di jalanan Jogja, sering saya menemui pecinta warna yang ekspresif. Salah satu yang saya ingat adalah seorang nona yang nampaknya penggemar warna pink. 










Kami naik dari Stasiun Ngrombo, sebuah stasiun kecil sebelum Stasiun Gambrengan yang lebih besar dan terkenal. Harga tiketnya sebesar Rp. 28.000 dan kereta tiba pukul 09.45 WIB.

Bumbu pecelnya sangat kental dan nendang sekali rasanya. Dengan sayuran berupa bunga turi, bayam (atau daun ketela ya?) serta dilengkapi dengan lauk berupa peyek kacang dan tahu goreng rasanya sangat dahsyat. Saya lupa harganya, yang jelas cukup murah dan tidak akan menyesal untuk membelinya lagi.


Jaman sekarang, untuk menyelenggarakan suatu acara kita tinggal membuat sebuah agenda di Facebook, membuat halaman
Dengan media internet, terutama situs jejaring sosial yang bisa dipastikan dibuka oleh kebanyakan pengguna internet setiap harinya, gerakan sosial ini akan semakin membesar dari hari ke hari. Jika kita tidak bisa berpartisipasi dengan uang atau material lainnya, kita cukup mengeklik tombol “Like” sebagai bentuk partisipasi.
Buah delima adalah salah satu buah kesukaan saya karena waktu kecil dulu pernah punya pohon delima di samping rumah dan selalu excited ketika pohonnya berbuah. Bahkan hingga saat ini saya masih hafal aroma bunga delima pas saya pritili satu persatu kelopak bunganya.


Saya termasuk manusia dengan sistem navigasi jelek. Meskipun telah melewati suatu jalur berkali-kali –apalagi kalau nebeng atau mbonceng– tidak akan menjamin bahwa saya ingat jalan tersebut, terlebih lagi jika di tempat-tempat baru. Karena itu saya sangat menggemari teknologi positioning karena teknologi tersebut sangat membantu saya.

Segera saya keluarkan senter kecil yang selalu saya bawa kemana saja –sebagai EDC, bersama sebilah pisau lipat– dan saya buka aplikasi Google Maps di handphone. Setengah pesimis sebenarnya, mengingat saat itu saya berada di daerah Gunung Merapi, mana mungkin Google mengenali daerah ini.











Tanpa perlu menceritakan panjang lebar rute perjalanan dari Jogja ke Tawangmangu, akhirnya kami sampai di Cemoro Kandang. Kami mampir di warung Mas Aris –yang legendaris– untuk sekedar mengisi perut sebelum memulai perjalanan panjang.
Setelah berjuang melawan faktor usia, sampailah kami di Cakra Surya. Suatu tempat yang sangat indah dalam versi saya. Dengan posko laksana rumah kecil di antara padang sabana.





Sudah lama saya mencari game padanan 





Berkaitan dengan pelemparan sepatu ke Pak Bush di Irak kemarin, saya yakin sebagian besar dari Anda berharap lemparan itu tidak meleset dan mengenai kepala Pak Bush. Kenapa saya yakin, karena umumnya kita semua gembira jika ada orang yang tersakiti *halah* Yang ingin saya bahas adalah kenapa lemparan tersebut bisa meleset –selain fakta bahwa Pak Bush berhasil menghindari lemparan tersebut– sampai dua kali.

Tak begitu lama menunggu, akhirnya keluar juga Opera versi 10 meskipun masih dalam tahap alpha. Soal tampilan browser memang tidak begitu mencolok dibandingkan dengan versi sebelumnya, namun browser yang menggunakan engine Presto 2.2 ini ditambahi serangkaian penambahan-penambahan fitur dan performa yang lebih asyik.
Tadi siang saya baca blog 



Jika kota Jogja bisa diibaratkan sebagai sebuah atom maka tentulah harus ada partikel-partikel yang menjadi penyusunnya, entah itu proton yang bermuatan positip, elektron yang bermuatan negatip maupun netron yang ngah-ngoh netral-netral saja. Nah, partikel-partikel pembentuk suatu atom bernama Jogja itu tentulah beraneka ragam. Bisa berupa manusia, gedung, tanaman, hewan, kendaraan, tiang listrik, kerikil, batako, pasir dan sebutlah ratusan ribu lainnya.
Bagi beberapa orang, nasi jagung mungkin hanya di makan pada kesempatan tertentu. Misalnya sebagai jajan pasar atau ketika mengunjungi suatu tempat terpencil.

Sebagaimana layaknya bayi yang lahir ke bumi maka orang tuanya akan berusaha menyelenggarakan acara selamatan, kenduri, bancahan atau apapun namanya –yang kesemuanya berarti berkumpulnya orang-orang untuk duduk bareng, berbagi cerita, berdoa dan tentu saja makanan– pada setiap tanggal kelahiran si bayi tersebut. Begitu juga halnya dengan blog, besok tanggal 27 Oktober merupakan Hari Blogger Nasional yang dicanangkan oleh Pak Menteri ketika Pesta Blogger 2007 kemarin dan tentu saja akan diadakan kenduri untuk memperingati hari tersebut.