Derawan Trip Part II
Menyambung cerita dari Part I: Penyu Hijau dari Derawan, Dilindungi!
Bagi yang suka berwisata alam, khususnya wisata bahari, mengunjungi Kepulauan Derawan seperti berada di surga dunia! Lebay? But it’s true!
Sebelumnya, saya lebih suka berwisata alam di daerah pegunungan yang sejuk, bisa pakai baju panjang, syal, gak bikin kulit menghitam. Tapi begitu tiba di Derawan, udah lupa semua.
Nyemplung sana-sini, sunblock pun sempat lupa pakai! Gak peduli kulit menghitam kepanasan.
Semua panorama yang tadinya cuma bisa dilihat di tivi atau foto, akhirnya dilihat sendiri, as seen on tv! *lebay part 2*
How to get there? Untuk mencapai Derawan dari Jakarta, bisa naik pesawat ke Balikpapan. Dari Balikpapan, kita bisa melanjutkan perjalanan dengan pesawat tujuan Berau, yang ibukotanya Tanjung Redeb. Dari Tanjung Redeb, kita meneruskan perjalanan dengan speedboat selama 2 jam untuk sampai ke P. Derawan.
Kalau mau lewat jalur darat juga bisa dari Balikpapan ke Tanjung Batu, lalu nyebrang ke Derawan. Tapi perjalanannya bisa makan waktu belasan jam, bahkan 20an jam, dengan medan yang tidak menyenangkan.
Setelah semalam menginap di Hotel Bumi Segah, Tanjung Redeb, hari kedua kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Derawan. Sayang sekali sudah terlalu banyak penginapan yang berada di daerah pantai.
Tapi masih jauh jauh jauh lebih indah dr Ancol *yaiyalah!* Pasirnya putih, airnya masih sangat jernih, dan beberapa penyu hijau terlihat di sekitar pantai saat kami tiba di sana.
Kepulauan Derawan, sekarang juga dikenal dengan Kepulauan Berau karena terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Ada beberapa pulau utama yang sempat kami kunjungi di sana, yaitu: P. Derawan, P. Maratua, P. Sangalaki, P. Kakaban, dan P. Blambangan. Banyak ya!
Karena salah satu tujuannya adalah monitoring resources di kepulauan tsb, jadi kami memang diajak berkeliling di sana. Many thanks to JP (Joint Program) TNC & WWF !
Bersama tim dari TNC, WWF, dan DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan), kami melakukan monitoring laut bersama speedboat ‘Pesut Berau’ yg kecepatannya 33-38knot, cepet banget dan bergoncang keras! Untung gak mabok laut.
Saya kira, monitoring itu hanya ke pulau satu dan lainnya, berdekatan dan berkunjung mampir2. Ternyataaaa…
Dari jam 10/11 siang sampai jam 17 kami benar-benar di laut, dan separonya bener2 di TENGAH-TENGAH LAUT! Di mana saat di tengah2 itu, liat utara-timur-selatan-barat, yang terlihat hanya horison, bahkan seamless krn horison dan langit sama2 biru! Melihat laut yang hijau-biru, di beberapa spot masih bisa liat dasarnya, tebing laut, karang-karang cantik, Subhanallah, keren banget!
*sambil deg-degan juga sih kalo ada apa2 di tengah laut, dan sinyal pun tak ada!*
Tujuan dari kegiatan monitoring resources itu adalah untuk menjaga/mengawasi sumber daya alam yang ada di laut Kepulauan Derawan tersebut. Seperti menjaga terumbu karang dari tangan2 jahil manusia, penggunaan bahan peledak dan racun dari nelayan, dan yang gak kalah penting: pencurian telur-telur penyu di pulau-pulau yang tak berpenghuni. FYI, pulau yg berpenghuni cuma Derawan dan Maratua, karena hanya di pulau tersebut terdapat air bersih (tawar).
Dalam kegiatan monitoring, tim akan ‘mewawancarai’ nelayan yg ada di laut, mencatat data-datanya dalam form yg tersedia. Dari situ bisa ditanyakan juga, dengan apa si nelayan menangkap ikan, ikan apa saja yang ditangkapnya, asal si nelayan, dsb.
Tapi, meskipun menemukan sesuatu yang mencurigakan, tim monitoring TNC-WWF hanya bisa memperingatkan saja, tidak bisa menangkap. DKP sendiri seharusnya punya wewenang untuk melakukan itu, tapi kenyataannya di lapangan.. Ya gitu deh.
Trus, kapal-kapal patroli milik DKP itu seharusnya gak layak buat monitoring. Kecepatannya rendah, gak bakalan bisa ngejar kapal nelayan udah lebih canggih.*sigh*
Ada cerita menarik saat kami menuju Pulau Blambangan. Pulau ini tak berpenghuni, dan masih sering didatangi penyu untuk bertelur. Tapi pengawasan terhadap pulau ini agak susah krn selain tak berpenghuni juga merupakan salah satu pulau terjauh dr Derawan. Saat kami menuju ke sana, kami memergoki kapal nelayan yg diduga sedang mencuri telur2 penyu di sana. Tapi karena sesuatu hal, kami tidak berhasil mewawancarai ataupun menangkapnya.
Setelah kami turun dan melihat lokasi, benar saja ada bekas-bekas pencurian telur penyu.
Sayang sekali, masyarakat di salah satu daerah wisata terindah di Indonesia itu belum sepenuhnya peduli pada ekosistem lingkungannya.
***
Anyway.. Dari kegiatan monitoring itu saya semakin cinta sama Indonesia yang punya sumber daya begitu besar dan alam yang indah.
Di Kep. Derawan ini saya bisa liat berbagai makhluk laut yang tidak di semua tempat ada. Ada penyu hijau, Manta (ikan pari yg gak nyetrum), ubur-ubur yang tidak menyengat di Kakaban (yg cuma ada di 2 tempat di dunia), ikan nemo (yang sebelumnya cuma liat di tv), berbagai ikan langka yang saya gak tau namanya, dsb. Masing-masing pulau punya ciri khas tersendiri.
Nanti saya lanjutin lagi ya ceritanya tentang masing-masing pulau di sana…
addthis_url = 'http%3A%2F%2Fblog.faniez.net%2F2010%2F08%2F17%2Fmonitoring-di-surga-dunia-kalimantan-timur%2F';
addthis_title = 'Monitoring+di+Surga+Dunia+Kalimantan+Timur';
addthis_pub = '';