
Gbr. Pengibaran bendera setengah tiang, lambang hari berduka nasional
Mulai kemarin semua media tv, radio, koran, berita di internet menyiarkan prosesi pemakaman seseorang yang kontroversial. Disisi lain Pak Harto dikagumi, disisi lain banyak juga yang menghujat supaya Soeharto diadili. Tapi seiring dengan kepergiannya, sepertinya semuanya berduka baik yang mengagumi, maupun yang menghujatnya. Yang mengagumi mungkin berduka dikarenakan karena kepergiannya, sementara yang menghujat minta soeharto diadili mungkin berduka karena belum sempat diadili sudah wafat duluan. Bahkan pemerintah menetapkah hari berduka nasional selama 7 hari (28 januari - 2 Februari).
Meskipun demikian, entah seperti apapun sosok seorang soeharto, tetap saja dia pemimpin yang pernah berjasa pada bangsa ini. Mbah kakung saya dulu kagum terhadapnya, meskipun mbah kakung saya tidak tahu soeharto “yang sebenernya” seperti apa. Dulu ketika masih SD, saya pernah mendengar Pak Guru kelas VI saya berkomentar: “Seandainya soeharto berhenti memimpin pada tahun 80 an (maskudnya tidak menjadi presiden lagi - pent) sejarahnya mungkin ditulis dengan tinta emas.” Pernyataan ini menggambarkan bahwa jasa-jasa Soeharto terhadap bangsa ini sangatlah besar. Kalau kita inget dulu jamannya soeharto indonesia pernah swasembada pangan, kini untuk memenuhi beras dalam negeri saja kita ngimpor, padahal kita mengklaim bahwa indonesia adalah negara agraris. Kalau menurut saya memang benar Indonesia itu negara “agraris”, tapi makna agraris kini telah bergeser. Kalau dulu yang dibajak adalah sawah ladang, kini yang dibajak adalah Software-software, VCD, MP3, dll.
Ah, sudahlah..
Semoga keikhlasan Soeharto dalam memimpin bangsa ini diterima oleh Yang Maha Kuasa..