Hasrat itu tiba-tiba muncul lagi. Entah sebagai wujud kerinduan, atau pengejawantahan dari pencarian penawar rasa letih yang sudah meradang dalam jiwa. Sore itu, dengan sedikit paksaan dari keponakan yang jauh-jauh datang dari Jakarta, ingin sekali jalan-jalan sore ke Candi Prambanan. Namun karena hari sudah sore, kupilih candi yang tidak memungut retribusi (paling tidak untuk warga setempat seperti saya) dan memang karena pintu masuk tidak dikunci.
Melihat Candi yang berdiri kokoh di hadapan saya, saya merasa ada yang beda dalam jalan-jalan kali ini. Tiba-tiba saya teringat akhir tahun yang lalu, dimana saya masih bisa bersama seseorang yang (paling tidak) lebih paham tentang percandian. Ialah Candi Ijo, candi terakhir yang terkunjungi bersama Zam .
Ndoyok, begitu bloger Jogja mengatakan, yang dulu pernah saya ikuti bersama Zam, Didit dan Cya tidak dapat dilupakan begitu saja. Seperti candu yang sudah merasuk dalam jiwa, aktifitas itu tak ubahnya menjadi kegiatan yang bukan biasa saja. Sepeninggal mereka ke ibu kota, aktifitas ndoyok pun hampir tak pernah saya lakukan.
Berkeliling di area candi yang masih dalam kondisi rehabilitasi pasca gempa, saya hanya clingak clinguk bak anak ayam kehilangan induknya. Dulu ketika masih ada Zam, setiap detil relief yang ada di dinding candi dia jelaskan sekenanya, meskipun tidak semua terekam dengan baik dalam isi kepala saya.

Dan saya pun terpaksa harus mengakhiri perjalanan saya sore itu, dengan bergumam “Kota Bogor Jakarta ternyata lebih indah dari pada candi-candi ini”.
Sesekali saya pun membidik senja yang menggantung di Candi Sewu sore itu, sebagai penawarnya.
Menulis yang berbau candi, bukan bermaksud untuk meladang di lahan orang (baca: blog Zam), namun hanya sedikit mencoba membangkitkan review candi yang kini tidak pernah ada yang menuliskannya.