
Apa yang ada di benak Anda, orang Indonesia di Indonesia, ketika mendengar frasa ‘tanggal merah’? Sebagian besar pasti membayangkan ‘hari libur’. Tanggal merah, frasa unik yang berasal dari angka penanggalan berwarna merah di kalender yang menyimbolkan hari libur, entah hari Minggu atau hari-hari lainnya yang diakui negara sebagai hari libur.
Manusia perlu keteraturan dalam aktivitas hidup. Bekerja di hari ini dan itu, bahkan menetapkan dari jam sekian hingga sekian. Selanjutnya sebagai penyeimbang keteraturan itu, konsep suatu hari yang digunakan untuk beristirahat total pun diperlukan. Maka diadakan hari libur di mana manusia berhenti sejenak dari pekerjaan rutin di hari-hari lainnya.
Tak hanya manusia, bahkan dalam agama-agama Abrahamik, tuhan pun ternyata membutuhkan ‘hari libur’. Perjanjian Lama dalam kitab Kejadian pasal 2 ayat 3 menulis, “lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.” Dari penuturan itulah sebagian besar manusia sekarang membenarkan pengunaan hari ketujuh ini untuk beristirahat dan beribadat. Yahudi meyakininya sebagai Sabtu, dan sebagian besar Nasrani yakin itu Minggu.
Jika memandang dengan bebas-nilai, maka setiap hari itu sama. Manusia lah yang memberikan makna kepada hari-hari tertentu, sehingga berbeda dengan hari-hari lainnya. Suatu hari bisa jadi spesial karena karena tuhan lahir di kandang domba. Suatu hari lainnya bisa jadi spesial karena pelarian sang nabi ke kota tetangga.
Mengapa manusia memberikan makna kepada hari-hari? Manusia membutuhkan pemberian makna kepada segala hal untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang tak bisa ia jelaskan secara empiris, lewat panca indera. Manusia juga membutuhkan pemberian makna untuk belajar membedakan satu hal dengan hal lainnya. Termasuk di antaranya hari-hari.
Selain itu manusia juga membutuhkan momentum. Momentum untuk mengekspresikan sesuatu, dan itu mesti bersifat kolektif. Hambar dan aneh misalnya jika orang Indonesia meneriakkan “merdeka” pada suatu hari yang biasa di bulan Juni. Tapi lain jika teriakan “merdeka” itu dikumandangkan pada tanggal 17 bulan Agustus. Manusia membutuhkan sebuah momen bersama untuk menyatukan rasa dan aksi. Maka wajar jika tahun baru, Natal, Idul Fitri, hingga Waisak digunakan manusia sebagai momentum untuk menyatakan pelbagai hal. Meski tak semua momentum kolektif diwujudkan sebagai tanggal merah.
Maka simbol tanggal merah tak hanya sekadar dimaknai sebagai hari libur. Ada makna-makna tertentu yang dititipkan ke dalam momentum-momentum yang berwujud tanggal merah tersebut. Manusia berhasil menyebarkan pesan kepada sesamanya lewat tanggal-tanggal merah, yang bahkan dirayakan oleh jutaan orang secara bersamaan.
Ijinkan saya menutup tulisan ini dengan peribahasa Ethiopia yang kira-kira terjemahan bahasa Indonesianya seperti ini: tak ada yang menjadi kaya hanya karena ia melanggar hari libur, dan tak ada yang menjadi gemuk hanya karena ia tak berpuasa. Ya, begitulah sifat pemaknaan.
Besok adalah 1 Januari. Besok adalah tanggal merah. Selamat merayakannya!
* foto saya semasa kanak-kanak, [mungkin] dijepret oleh tuah purnama k. anwar