
Sembilan tahun yang lalu teror menghantui malam Natal di Indonesia. Sejumlah bom di beberapa gereja meledak hampir berbarengan, belasan orang terbunuh pada malam kudus tersebut. Perayaan Natal yang seharusnya disambut dengan suka cita dan penuh khidmat menjadi ketakukan dan masih menyisakan rasa trauma di tahun-tahun setelahnya.
Itu hanya sekelumit mimpi buruk mengenai tragedi Natal di negeri ini. Kini perasaan was-was orang sudah berangsur tenang setelah beberapa tahun terakhir tidak ada kejadian serupa yang terjadi. Natal kembali disambut dengan suka cita. Di rumah bersama keluarga, pertemuan besar famili dan sanak saudara, misa dan kebaktian di gereja, hingga perayaan Natal pelajar dan mahasiswa.
Oh malam sunyi senyap, bintang-bintang gemerlapan di atas padang Efrata.
Angkatlah kepalamu. Trimalah Sabda Tuhanmu. Malam inilah sudah lahir, Kristus juru s’lamatmu.
Malam sunyi senyap, bintang-bintang gemerlap. T’lah terdengar suara bawa kabar senang.
Yesus Juru S’lamat datang di Bethlehem. Yesus Juru S’lamat datang di Bethehem.
Natal yang penuh sukacita tersebut selalu terkait dengan sejumlah tradisi, seperti rutinitas lagu-lagu Natal, cerita Natal yang menyentuh hati, hadiah dan kue Natal, kegiatan-kegiatan di gereja, pohon cemara, asosiasi salju, hingga Sinterklaas. Dan itu tak terkecuali di Indonesia.
Tradisi tersebut tak hanya sekadar tradisi, namun ada ritus tertentu yang saya lihat dari tradisi Natal di Indonesia. Sebuah ritus yang terutama sekali mempengaruhi pola pikir anak-anak dalam melihat dunia dan kehidupan.
Pada tahun 1960-an James L. Peacock pernah mengatakan bahwa ludruk adalah sebuah ritus modernisasi pada masyarakat Jawa. Tanpa disadari ludruk mulai membawa pesan-pesan seperti urbanisasi. Lakon ludruk tak lagi mementaskan latar pedesaan yang homogen, namun sudah menjadi latar perkotaan dengan banyak orang dari kebudayaan yang berbeda-beda. Tanpa disadari oleh pemainnya, mereka telah membawa pengaruh modernisasi terhadap masyarakat Jawa yang gemar menonton ludruk. Tanpa disadari oleh para penonton, mereka mulai mengenal hal-hal yang berbau modern dari ludruk. Itulah yang ditafsirkan secara hermeneutik oleh Peacock terhadap sebuah pertunjukan bernama ludruk di Jawa Timur.
Maka Natal bisa jadi merupakan sebuah ritus jua. Bukan ritus modernisasi, tapi –menggunakan bahasa saya– merupakan ritus angan-angan, sebuah ritus yang menawarkan mimpi terutama pada anak-anak. Tradisi tentang salju dan pohon cemara, serta Sinterklaas dan kereta rusa kutubnya secara tidak langsung menawarkan sesuatu yang baru, sesuatu yang konkritnya tidak ada di Indonesia pada anak-anak. Imajinasi dan fantasi anak-anak mengenai White Christmas dengan salju yang turun dan menutupi pohon cemara sembari menghangatkan diri di depan perapian, menggantungkan kaus kaki menanti hadiah dari Sinterklaas, akan menghiasi masa kecilnya. Lebih lanjut, angan-angannya tentang Eropa dan negara-negara di belahan utara menjadi lebih berkembang, serta makin memperkaya imajinasinya.
Tak hanya sampai di situ, imajinasi yang tertanam semenjak kecil itu lama-kelamaan akan menjadi sebuah cita-cita. Keinginan untuk menapakkan kaki di tempat yang memiliki musim dingin dan hujan salju akan lahir. Tentu saja karena hal tersebut tidak ditemukan di Indonesia. Pada saat seperti ini Natal menjadi sebuah ritus angan-angan yang mempengaruhi imajinasi dan cita-cita anak di Indonesia.
I’d miilad said oua sana saida! Selamat Natal bagi yang merayakan!
* foto oleh D’Arcy Norman – www.flickr.com/photos/dnorman