Tak luput dari ingatan, suatu waktu seorang kenalan pernah menasehati [atau memaki-maki] saya perihal keikutsertaan dalam pemilihan presiden dan anggota legislatif mahasiswa sebuah perguruan tinggi antah barantah, yang aneh lagi tidak membanggakan.
“Kamu harus ikut nyoblos! Tunjukkan kepedulianmu terhadap kampus ini. Jadi mahasiswa kok apatis.”
“Aku lebih kenal merk-merk rokok ketimbang nama-nama mereka.”
“Kamu sih, gaulnya terkotak-kotak gitu. Mainnya cuma yang satu fakultas, atau paling satu jurusan… Itupun paling mahasiswa nggak bener tukang mabuk.”
“Hahahaa… Jadi apa nanti itu presiden dan para anggota legislatif mahasiswa itu mau melawan kebijakan kampus yang mengkotak-kotakkan mahasiswa berdasarkan disiplin ilmu?”
“Maksudmu apa?”
“Kamu anak kedokteran gigi toh, bisa atau pernah nggak kamu coba ambil mata kuliah di psikologi, filsafat, atau ilmu budaya?”
“Loh ngapain? Buat apa coba? Mending konsen ke studi yang jelas-jelas berkaitan, daripada buang-buang waktu dan ilmu buat ngambil mata kuliah yang nggak berkaitan… Masa calon dokter belajar gali-gali candi, Marxisme, atau sejarah revolusi industri, yang benar aja!”
“Tuh kan, jadi siapa juga yang terkotak-kotak? Tapi ya two wrongs don’t make a right, dab.”
“Bukan begitu, bos… Ya soal kuliah dan cita-cita pekerjaan dengan soal pergaulan ya beda.”
“Ah sudahlah, beda frekuensi nih. Kita sudah terkotak-kotak sejak awal masuk perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan sejak kita di sekolah menengah. Nggak usah harus mengikuti yang aku bilang, toh aku sudah salah sejak awal.”
“Aneh-aneh aja. Jadi kalau gitu maumu sebenarnya apa tho?”
“Makan siang dulu, sambil ngudut kretek.”
Entah saya berada dalam kotak atau tidak. Yang jelas, bisa dikatakan saya hanya memperjuangan kepentingan pribadi ketika memilih seorang calon pada sebuah pemilihan berskala fakultas.
Kepentingan pribadi demi kontinuitas perjamuan air kedamaian di kampus menjelang larut malam.