Bukan. Bukan pusat jeans itu, bukan Cihampelas. Bukan pula dataran tingi yang sejuk itu, bukan Lembang. Bukan pula Jalan Dago, juga bukan Riau. Apalagi mall, pusat perbelanjaan, factory outlet, kafe serta tempat kongkow terkenal lainnya di Kota Bandung yang kini semakin menjamur dan membikin semarak kota pegunungan itu. Satu tempat yang dapat membuat saya jatuh cinta pada kunjungan pertama itu adalah Bragaweg, sebuah kawasan kota tua di tengah-tengah Kota Bandung, yang kini dikenal sebagai Jalan Braga.

Parijs van Java, julukan itulah yang melekat di benak orang-orang jika membicarakan soal Kota Bandung. Percakapan mulai dari kelas warung kopi hingga kafe terkait dengan julukan tersebut pasti tak lepas dari soal mode dan fashion hingga para mojangnya yang geulis. Memang mode dan fashion identik dengan Kota Paris di Eropa sana. Namun julukan ini sebenarnya tak baru lagi, karena sudah melekat sejak awal abad ke-20, hampir berbarengan dengan lahirnya julukan lawas lainnya seperti Bloemen Stad (Kota Kembang), de Bloem van Bergsteden (Bunganya Kota Pegunungan), serta Europa in de Tropen (Eropa di Wilayah Tropis). Catatan-catatan awal mengenai julukan ini misalnya ada pada Boekoe Penoendjoek Djalan boeat Plesiran di Kota Bandoeng dan Daerahnja, terbit tahun 1906. Di sana dituliskan Bandung sebagai “Parisnja Tanah Djawa”.
Namun julukan itu baru hidup dan terdengar gaungnya pada periode 1910 hingga 1940. Saat itu Bandung sebagai pemukiman warga Eropa terbesar di Hindia Belanda dikenal dengan kesemarakan dan kegemerlapannya, laiknya Kota Paris. Istilah “jaman ngalantrah van reup tot bray”, zaman kehidupan malam Bandung yang begitu gemerlap dengan hiburan di mana-mana, begitu melekat dengan kota tersebut.
Julukan Parijs van Java yang terkenal hingga Eropa sana tak selalu direspon positif. Dalam buku Guide to Java, Peter Hutton mengkritik bahwa Bandung tidak bisa disamakan dengan Paris. Bandung tidak punya sungai seperti Sungai Seine, alih-alih hanya punya Cikapundung yang sekarang tidak jernih lagi. Bandung juga ujarnya tak memiliki bangunan selevel Museum Louvre atau Notre Dame. Dan sebaliknya, Paris tidak berada di dataran tinggi dan beriklim tropis, dua hal yang dipunyai Bandung. Namun di luar semua itu Bandung dan Paris sama-sama identik dalam Rue de la Paix, jejeran pertokoan elit yang berbaris rapi di kedua sisi jalan sepanjang jalurnya dengan kegemerlapan yang menghiasinya.
Adalah Bragaweg, Rue de la Paix-nya Bandung, kawasan senta kemeriahan dan kegemerlapan Bandung saat itu. Bragaweg sebelumnya adalah jalan kecil yang menghubungkan gudang kopi milik seorang preangerplanter (tuan tanah atau kebun di Priangan) kaya, Andries de Wilde, dengan Grotepostweg (Jalan Raya Pos), jalan raya Daendels, yang menjadi jalan raya utama di Pulau Jawa. Jalan kecil ini kemudian ramai dilalui orang, alat transportasi yang paling sering melewatinya adalah pedati. Maka akhirnya jalan ini dikenal sebagai Pedatiweg atau Karrenweg dalam Bahasa Belanda. Saat itu Pedatiweg hanya memiliki sedikit bangunan.
Lambat laun Pedatiweg mulai ramai dengan gedung pertokoan, perkantoran, restoran, hingga tempat hiburan lainnya seperti bioskop dan kafe teras. Terlebih lagi karena dibangunnya Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger, dan juga Societeit Concordia (sekarang Gedung Merdeka, atau Gedung Asia-Afrika) di persimpangan Pedatiweg dan Grotepostweg yang menjadi sebuah schouwburg sebagai pusat kesenian dan tempat berkumpulkan kalangan elit Eropa di Kota Bandung dan daerah sekitarnya. Pedatiweg yang mulai ramai sebagai koloni pemukiman Eropa dan pertokoan elit akhirnya dikenal sebagai Bragaweg.
Bagaimana akhirnya nama jalan ini berubah menjadi Bragaweg mempunyai banyak versi. Ada yang bilang nama tersebut berasal dari nama minuman khas Rumania yang disajikan di Societeit Concordia. Versi sejarawan dan sastrawan Sunda sendiri seperti menurut Soewarno Darsoprajitno dan M. A. Salmun, nama Braga berasal dari Bahasa Sunda “baraga” atau “ngabaraga”, yang berarti “berjalan berangin-angin menyusuri sungai”. Kebetulan Sungai Cikapundung bersebelahan dengan Pedatiweg ini. Namun versi yang cukup kuat hingga sekarang adalah nama Braga berasal dari kelompok orkes terkenal masa itu yang bernama Toneelvereeniging Braga. Orkes ini kerap manggung di Societeit Concordia hingga akhirnya menempati bangunan di ujung selatan Bragaweg, yang sekarang dikenal sebagai Museum Konferensi Asia-Afrika. Dan pertanyaan selanjutnya dari mana asal nama Braga pada kelompok musik ini. Bisa jadi diambil dari nama dewa kesusastraan Eropa Utara, Bragi. Atau nama kota kuno di Portugal yang masih berdiri megah hingga kini.
Gedung Societeit Concordia yang hanya bisa dimasuki oleh kaum Eropa, itupun yang kelas elit dan terpandang, uniknya pernah mengundang Ismail Marzuki (yang tentu seorang bumiputera, inlander) sebagai pemain musim paruh waktu di sana. Kala itu Ismail Marzuki dan grup musiknya Lief Java sangat populer terutama di kalangan Eropa, dengan lagu Als de Orchideen Bloien bahkan yang populer sampai Nederland. Namun demikian, Ismail Marzuki menolak tawaran Julius Foorman yang saat itu menjadi pimpinan orkes di Societeit Concordia.
Bangunan yang menyokong julukan Parijs van Java antara lain adalah rumah-rumah mode elit seperti Au Bon Marche dan Onderling Belang yang kini dikenal sebagai Toko Sarinah, hingga bangunan besar seperti DENIS Bank (sekarang Bank JaBar Banten) dan Gedung Gas. Tak ketinggalan pula kafe-restoran Maison Bogerijen yang sangat terkenal pada masanya, bahkan Kerajaan Belanda dan Gubernur Jenderal berlangganan di sini. Sekarang bangunan lama Maison Bogerijen sudah tak ada lagi, betrganti dengan Braga Permai. Meskipun serba Eropa yang bergaya art deco, di Bragaweg juga ditemukan gaya arsitektur Indo-Europeeschen architectuur stijl. Yaitu bangunan Eropa dengan corak Nusantara, misalnya Majestic Theater dan toko buku van Dorp yang memiliki ornamen kepala kala (biasa terdapat di gerbang candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur) ukuran besar di bagian depan gedung.
Karena saking Eropa-nya kawasan Bragaweg ini, maka yang terlihat wira-wiri hanyalah mereka dari golongan Eropa, dan juga sedikit dari saudagar Tionghoa. Itupun tidak semua bisa karena beberapa bangunan hanya diperuntukan bagi warga Eropa kelas atas. Bagi pribumi paling-paling hanya kalangan priyayi saja. Beberapa bangunan malah memasang papan peringatan “verboden voor honden en inlander”, dilarang masuk bagi anjing dan pribumi.
Hein Buitenweg memberikan pujian atas kebangkitan Bandung lewat Bragaweg ini, “werd er ergens ter wereld meer en beter gedanst dan in he oude indie”, bagian dunia mana yang sanggup mengalahkan kemeriahan Hindia Belanda di masa lalu.
Kini masa-masa kejayaan Hindia Belanda di masa lalu itu masih tersisa di Jalan Braga, seperti juga di Jalan Kayutangan Malang, Jalan Malioboro Yogyakarta. Walau sedikit ironi terasa ketika melihat bangunan tua yang tak terawat bersanding dengan bangunan modern yang telah mengganti wajah beberapa bangunan yang kini hanya tinggal nama saja.
Setelah kedatangan Jepang hingga proklamasi kemerdekaan, banyak warga Eropa dan Indo yang hengkang keluar Indonesia. Jalan Braga mulai sepi dan mati suri. Sebagian bangunan berganti kepemilikan dan beberapa telah direnovasi penuh hingga hampir tak menyisakan bentuk bangunan lamanya. Sebagiannya lagi dibiarkan kosong dan bangunan tuanya menjadi terlantar. Ironisnya lagi, walaupun sudah mengalami renovasi kawasan Braga tetap sepi konsumen walau lalu lintas kendaraan bermotor tetap cukup padat. Pembangunan mall Braga City Walk tetap belum terlihat hasilnya. Beberapa kali penyelenggaraan Festival Braga hanya menghidupkan Braga saat acara tersebut dan kembali mati suri setelahnya. Beberapa bulan terakhir terlihat upaya penggantian aspal jalan dengan batu andesit hitam, namun karena padatnya lalu lintas, banyak bagian jalan yang pecah-pecah.

Ternyata memang satu bidang usaha yang tetap tidak ada matinya sejak zaman nabi-nabi hingga sekarang ini, hiburan malam, dan tentu saja akan merujuk kepada pelacuran. Lengkap dengan diskotik, karaoke, bar, bilyard, plus neng geulis yang siap melayani. Tempat-tempat ini terutama bisa ditemukan di sekitar simpang Bragaweg dengan Jalan Suniaraja dan Oude-Hospitalweg (sekarang Jalan Lembong).
Pramoedya Ananta Toer pernah menulis dalam Mereka Yang Dilumpuhkan, bahwa perempuan Sunda harganya paling tinggi. Menurut Pram itu karena perkebunan-perkebunan di Jawa Barat banyak dikuasai orang Eropa sehingga anak-anaknya banyak yang menjadi Indo. Ini masih terkait dengan kawasan Gang Coorde (sekarang Jalan Kejaksaan) atau bordeelsteeg (jalanan bordil). Gang Coorde yang simpangnya terletak di tengah Bragaweg ini adalah kompleks red light kelas atas yang menawarkan perempuan-perempuan Indo yang datang dari penjuru Priangan. Mereka adalah turunan tidak resmi dari para preangerplanters warga Eropa.
Sisi gelap Parijs van Java ini pernah dituliskan oleh seorang jurnalis Melayu-Tionghoa, Kim Lang, “soeda beroelang-oelang orang sohorken bahoewa Bandoeng itoelah apa Parisnja tanah Djawa. Tapi, sepandjang pengetahoean saja jang di seboet Paris itoe boekannja tentang hal kabaekan peratoeran politie, roema-roema dan toko-toko dan laen-laen sebaginja, hanjalah dari banjaknja koepoe-koepoe malem sadja, itoelah jang kenamaan Paris tanah Djawa…” Remy Sylado pun menggambarkan dunia malam Bandung era 1920-an ini lewat novel Parijs van Java.
Itulah mengapa jangan heran seabad yang lalu perkumpulan Bandoeng Vooruit mempromosikan Kota Bandung dengan disertai ungkapan “don’t come to Bandoeng if you left wife at home!” Para tuan-tuan Turis sebaiknya tidak mengunjungi Bandung apabila tidak membawa istri atau meninggalkan istri di rumah. Dan bisnis ini terus tetap hidup di dalam mati surinya Bragaweg.
Beginilah dunia yang sedang berubah dengan cepat, mengutip jargon–juga dijadikan guyon–Orde Baru, “lepas landas”. Tak hanya bangunan-bangunan tua yang ditumbuhi lumut, cat terkelupas, dan kadang hanya menyisakan puing dan pondasi bekas kejayaan masa lalunya, namun juga ideologi yang rontok, manipulasi yang terkuak, hingga agama yang kurang berhasil mencerahkan umatnya. Kehidupan berubah.
Dan seperti Resi Bisma dalam perwayangan, sesuatu yang “tua” tak harus selalu digantikan oleh yang “muda”, karena mereka punya porsi dan perannya masing-masing. Resi Bisma menjadi Senapati Agung Astina pertama di medan Kurusetra di usia yang sangat tua, itu porsinya, dan akhirnya nanti dia digantikan juga oleh Begawan Dorna, Prabu Salya, hingga Adipati Karna. Bangunan tua Bragaweg yang antara lain buah karya arsitek Wolff Schoemaker dan Richard Schoemaker tersebut menjadi saksi bisu penggalan-penggalan kisah masa lalu dan sebagai pengingat bahwa sebuah kota terus mengalami perjalanan sejarah yang panjang, itulah sedikit dari porsi mereka sekarang.
Bisa saja nasib Bragaweg akan masuk ke dalam bahasa Rendra dalam Kisah Perjuangan Suku Naga.
Kemarin dan esok
adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan
sama saja
Jammer dat je, Bragaweg!