
Celana panjang,kaos,hem dan beberapa rompi rajutan tertumpuk tidak beraturan dipinggir jalan. Beratap terpal warna biru. Itulah gambaran toko baju bekas yg ada ditemanggung.
Bicara baju bekas emang sedikit menarik. Baju bekas ternyata secara tidak langsung ikut membentuk subkultural gaya anak muda,khusus,unik dan nyentik!
Tak hanya itu,baju bekas juga merefleksikan akan posisi keuangan anak muda yg pas2an. Berbeda dengan baju yg ada ditoko, yg jumlahnya banyak karena produksi massal. Sehingga banyak baju yg kembar.
Tapi,beda dengan baju bekas!
Mau tehe..???
Diindonesia sendiri,baju bekas masih tergolong tabu digunakan atau sebagai pakaian primer. Mungkin karena baju itu tidak tahu asal usul dan sejarahnya. Ntah dulunya bekas pemakainya adalah panuan,kudisan atau punya penyakit kulit yg akut.
Di kota2 besar,sebut saja jogja,semarang,bandung,jakarta dan batam. Kemunculan baju bekas sangat besar. Toko baju import bekas ini biasanya di sebut owol.

Penampilan dengan baju bekas diindetikan dengan kaum “new age” atau kelompok bergaya traveller yg anti akan sebuah kata “nyecis atau rapi”. Hal ini juga berlaku dibeberapa kawasan inggris yg menganut aliran punk atau jalur indie. Meraka biasa dengan kawos oblog,jumper atau jaket bekas dr kain wol.

Sikap malu-malu atau isin adalah hal yg lumrah ketika orang beli baju bekas. Dan sikap malu-malu ini juga didorong oleh respon sebagian besar masyarakat yang menganggap baju-baju bekas adalah sesuatu yang menjijikkan juga berkesan kumuh karena dibeli di tempat-tempat yang sempit penuh sesak dengan karung-karung isi baju bekas bertumpuk-tumpuk. Sama malunya ketika pria hidung belang membeli alat kelamin bekas..LOH..!!![red-ke prostitusi]
Ah,saya kok nyaman2 saja dengan pake jumper bekas yg harganya cuman 20 rebu..hahahha
Aku yakin anda punya sejarah tentang baju bekas ?
Salam
Pepeng
eScoret