Jika naik kereta api, pernahkan kita tau kapan tahun pembuatan kereta dan gerbong? FYI, gerbong itu sebutan untuk pengangkut barang, sedang kereta merupakan sebutan untuk pengangkut manusia (penumpang) dalam rangkaian kereta api.
Informasi ini ada di dalam plat nomor seri yang terletak di atas pintu menuju bordes (sambungan gerbong) atau tulisan yang tertera pada bagian luar gerbong dan kereta. Misalnya pada gambar ini. Kereta yang saya tumpangi memiliki nomor seri K1-08506. Lalu, bagaimana membacanya?
K1 merupakan kode bahwa kereta yang saya tumpangi adalah kereta penumpang kelas 1 (eksekutif). Berikutnya K2 untuk kelas bisnis, dan K3 untuk ekonomi. KM1 menunjukkan kereta restorasi (kereta makan) untuk kelas eksekutif (kelas 1), KM2 kereta restorasi kelas bisnis, dan KM3 untuk restorasi kelas ekonomi. Ada juga KMP yang merupakan kereta makan dan pembangkit mini (kereta restorasi dan pembangkit jadi satu), KP untuk kerta pembangkit, dan BP untuk gerbong bagasi penumpang.
Dua digit setelah tanda dash (-) menunjukkan tahun pembuatan. Dalam contoh ini, kereta atau gerbong dibuat pada tahun 2008. Contoh lain misalnya kode K1-96805, berarti kereta ini dibuat pada tahun 1996.
Digit setelah tahun menunjukkan jenis boogie. Boogie adalah adalah sistem roda dan peredam kejut, biasanya pada gerbong/kereta ada 2 boogie. Satu boogie biasanya terdiri dari 4 roda (2 pasang) dengan beberapa jenis sistem peredam kejut, yang menentukan batas kecepatan dan beban maksimal kereta. Karakteristik boogie ini kemudian dibagi menjadi 5 jenis karakteristik boogie, yaitu 5, 6, 7, 8, dan 9.
Boogie seri 5 mengunakan per keong pada tiap-tiap roda, termasuk per utamanya, sehingga memiliki batas kecepatan maksimal 100 km/h. Boogie seri 6 menggunakan per keong pada tiap-tiap roda, namun per utama menggunakan per daun, dan memiliki batas kecepatan maksimal 100 km/h. Boogie seri 7 menggunakan per daun pada tiap-tiap roda, termasuk per utamanya, dan memiliki batas kecepatan maksimal 100 km/h. Boogie seri 8 menggunakan suspensi pegas karet pada tiap-tiap roda, namun pada suspensi sekunder menggunakan per keong, sehingga memiliki batas kecepatan maksimal 120 km/h. Boogie seri 9 menggunakan suspensi pegas karet di tiap-tiap roda, dan suspensi sekunder menggunakan pegas udara, sehingga memiliki batas kecepatan maksimal 120 km/h.
Boogie seri 5 ,6, dan 7 biasanya digunakan untuk gerbong/kereta seri lama dengan tahun pembuatan 60, 70, dan 80. Boogie seri 8 digunakan untuk gerbong/kereta yang dibuat pada tahun 90-an untuk kelas Argo Generasi 1 (misal: Argo Bromo). Namun karena dirasakan kurang nyaman, terutama di sistem suspensi oleh penumpang, boogie seri 8 jarang digunakan dan kembali menggunakan boogie seri 5 yang dianggap lebih stabil. Boogie seri 9 digunakan kereta Argo terbaru seperti Argo Anggrek (yang berwarna putih-pink dan dan berbentuk seperti trapesium).
Contoh pada kereta yg saya tumpangi, Argo Lawu milik Daop VI Yogyakarta (K1-08506) menggunakan boogie seri 5. Pada kereta bernomor seri K1-96805 (Argo Dwipangga milik Daop VI Yogyakarta) menggunakan boogie seri 8.
Dua digit terakhir menunjukkan nomor inventaris. Biasanya bermula dari nomor 01 sampai sebanyak gerbong yang dimiliki oleh PT Kereta Api (Persero), sesuai kelasnya (pada masing-masing Dipo).