Sebenarnya bukan tradisi saya menulis catatan di blog pada 2 Januari, yang merupakan hari lahir saya. Namun tahun ini berbeda, karena \perjalanan hidup setahun yang lalu, sepanjang 2011, bagi saya tidak seperti sebelum-sebelumnya. Terasa lebih berwarna. Tawa, tangis, suka, duka, yang kadang batasnya setipis kertas, memberi warna lebih pada kehidupan saya.
Berawal pada akhir 2010, tepatnya 4 Desember, ketika saya mengucap ikrar suci dengan wanita yang kini menjadi istri saya, Dini Tri Winaryani. Dan babak baru hidup saya pun bermula.
Di awal pernikahan, kami harus menjalani hubungan jarak jauh, karena saya bertugas di Wonosobo, kota asal saya. Sementara istri tetap bekerja di Solo. Dua pekan sekali, saya seolah menjadi pengelana, naik motor menempuh ratusan kilometer untuk menjenguk istri. Saat berpisah jarak itu pula, kabar gembira datang. Istri saya hamil, meski belum dipastikan dengan pemeriksaan ke dokter. Saya tidak bisa mendampingi, saat istri mengalami semua tanda-tanda kehamilan. Baru selang hampir dua pekan setelah mengalami tanda-tanda kehamilan awal, saya datang ke Solo dan menemaninya periksa ke dokter kandungan. Positif, kata dokter. Alhamdulillah …
Karena masih bertugas di Wonosobo, saya tidak bisa mendampingi istri yang sedang di awal kehamilan secara penuh. Hanya dua pekan sekali, di akhir pekan, saya bisa mendampinginya. Hingga akhir Februari 2011, saya kembali ditarik ke Solo untuk bertugas di kota itu.
Dan rutinitas kerja pun berlanjut di Solo. Sementara istri saya akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaan, karena kami kebetulan sekantor. Kebijakan perusahaan, suami istri tidak boleh bekerja di perusahaan yang sama. Berat memang, terutama bagi istri saya yang terbiasa bekerja. Namun kami menjalaninya dengan seikhlas mungkin. Setidaknya, dengan mundur dari pekerjaan, istri saya bisa lebih fokus terhadap kehamilannya.
Untuk mengisi waktu, istri saya belajar kerajinan aksesoris, lalu dijual ke beberapa teman. Alhamdulillah, Gusti Allah memberi rejeki dari jalan itu.
Allah juga memberi kemudahan pada istri saya dalam menjalani kehamilannya. Tidak ada keluhan berat yang dia rasakan, janin di kandungan juga berkembang normal. Menjelang kelahiran, persiapan kami lakukan. Membeli baju bayi dan perlengkapan lain, jadi hal yang sangat menyenangkan bagi kami berdua. Tak sabar rasanya melihat bayi kami lahir ke dunia.
Dan hari lahir itu tiba. 17 Agustus 2011, di pertengahan bulan Ramadhan. Pagi hari, saat jam sahur, istri saya merasa mulas. Saya dan ibu mertua pun mulai siaga, jika sewaktu-waktu harus ke rumah sakit. Pada pukul 09.00, saat tanda kelahiran semakin dekat, kami berangkat ke rumah sakit, diantar kerabat. Deg-degan, antara bahagia akan segera melihat anak kami, juga was-was dengan proses melahirkan yang akan dijalani istri.
Hingga sesaat sebelum istri melahirkan, saya dipanggil dokter kandungan yang menangani istri saya. Dia menyatakan, ada kemungkinan bayi kami meninggal di kandungan karena saat dicek oleh perawat tak ditemukan detak jantung. Deg … Saya serasa mau pingsan mendengar hal itu. Lalu dokter melakukan pengecekan langsung lewat USG dan kepastian itu kami peroleh. Buah hati kami dipanggil kembali oleh Sang Pencipta, sebelum kami melihatnya lahir ke dunia.
Sedih kami rasakan, tapi ini adalah nyata. Kami hanya bisa tunduk terhadap kehendak Sang Pemilik Hidup. Istri saya berusaha tabah, meski saya tahu, perasaannya remuk. Tapi dia menabahkan diri, karena dia harus melahirkan buah hati kami meski kami tahu tak akan bisa mendengar tangisannya. Syukurlah, Gusti Allah memberi kemudahan saat dia melahirkan meski bayi kami sudah tiada.
Wildan Ramadhan Afandi, nama anak kami. Dia sekarang beristirahat dengan tenang di samping makam kakeknya, ayah dari istri saya.
Peristiwa itu memberi banyak pelajaran bagi saya, tentang perjalanan hidup. Ada hal-hal yang terkadang tak bisa kami terima dengan nalar, tapi itulah rahasia dari Sang Pencipta. Ada hikmah di balik peristiwa, begitu kalimat yang diungkapkan orang tua, saudara, kerabat, kawan dan sahabat, yang selalu menguatkan kami. Hidup harus terus berjalan. Ya, kami tak boleh terus menangisi hal yang telah terjadi.
Selang sebulan lebih setelah kepergian anak kami, Gusti Allah menunjukkan kemurahannya. Istri saya mendapat tawaran pekerjaan di bidang yang sama dengan yang digeluti sebelumnya. Subhanallah …
Saya sempat khawatir dengan kondisi istri yang harus tinggal di rumah, sementara bayi yang sedianya akan dirawat ternyata sudah dipanggil kembali. Tapi Allah menunjukkan kemurahan-Nya, dengan memberikan pekerjaan pada istri saya. Setidaknya, dengan adanya kesibukan pekerjaan, kesedihan atas kepergian buah hati kami akan terkurangi.
Pada 4 Desember 2011 lalu, usia pernikahan kami genap setahun. Usia yang masih sangat muda untuk sebuah pernikahan. Jalan masih panjang, untuk kami jalani bersama. Segala peristiwa yang terjadi, akan menjadi bekal bagi kami untuk saling menguatkan. Saling mengisi dan saling berbagi. Mengikis ego untuk harmoni rumah tangga kami.
Dan hari ini, saat tulisan ini diposting, usia saya bertambah. 34 tahun. Semakin menua, semoga semakin bijaksana. Banyak kekurangan yang saya coba kikis, agar hidup lebih bermakna.
2.1.2012 …
Rumah Jaten, Karanganyar