Densus 88 Antiteror Mabes Polri, menyergap sebuah rumah di Kepuhsari RT 3 RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, pada Rabu (16/9) malam hingga Kamis (17/9) pagi. Hasilnya, empat orang yang menurut polisi adalah pelaku dan anggota jaringan teroris, tewas. Termasuk salah satunya Noordin M Top, gembong teroris paling diburu di Indonesia sejak 9 tahun belakangan.
Tiga korban tewas lain adalah Susilo alias Adib, yang mengontrak rumah yang digerebek, Ario Sudarso alias Aji, serta Bagus Budi Pranoto alias Urwah. Satu korban terluka adalah Putri Munawaroh, istri Susilo. Dalam penggerebekan itu, terjadi baku tembak dan ledakan, yang membuat rumah yang ditinggali Susilo porak poranda.
Saya tidak akan bercerita detil soal pengergapan rumah itu, karena sudah banyak ditulis di media cetak, serta disiarkan media elektronik dengan lengkap. Saya cuma sekadar ngoceh soal rasanya “dihajar” teroris, yang kembali dialami rekan-rekan jurnalis di Solo.
Sebelumnya, saya pernah cerita tentang rasanya “dihajar” teroris, saat meliput penggerebekan rumah Sikas di Pancasan, Desa Toriyo, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, pada Maret 2007 lalu. Setelah itu, ada sejumlah liputan soal teroris, namun tidak saya ceritakan di blog ini.
Oh ya, “dihajar” di sini bukan dalam arti dihajar secara harfiah, namun dihajar fisik dan psikisnya, karena meliput peristiwa
Ya, meliput peristiwa yang berkait dengan isu terorisme, memang sangat menguras tenaga dan pikiran. Informasi yang simpang siur, jadi salah satu faktor. Jika peristiwa sudah terjadi, fisik yang diuji karena harus berjam-jam memantau lokasi peristiwa, juga berhari-hari.
Dalam kasus di Kepuhsari, rekan-rekan jurnalis sudah berada di lokasi kejadian sejak Rabu malam, sekitar pukul 11.00, menjelang penyerangan. Hingga waktu sahur, karena peristiwa itu terjadi di ujung bulan Ramadhan, mereka masih bertahan di lokasi. Sampai Kamis pagi, mereka belum beranjak, karena ending penyerangan terjadi selepas subuh.
Saya? Kebetulan tidak berada di lokasi pada malam dan pagi itu, karena pada hari Rabu, saya tidak masuk kerja. Artinya, saya terlewatkan bagian penting dari peristiwa itu, yaitu penyergapan yang diiringi bunyi tembakan dan ledakan.
Namun pada Kamis, saya mulai merasakan “dihajar”. Tim liputan dibentuk, saya kebagian tugas mencari sisi-sisi lain dari peristiwa itu. Lokasi liputan yang terpencar-pencar, jadi medan yang berat, apalagi dalam kondisi puasa. Sore hari, masih menyusun berita untuk diterbitkan di koran. Banyaknya data yang terkumpul, bikin saya bingung untuk memulai menulis berita.
Sampai bermenit-menit, saya duduk di depan komputer tak tahu mau memulai tulisan bagaimana, meski tahapan itu akhirnya terlewati.
Jumat (18/9), pantauan di lokasi peristiwa masih menjadi menu utama liputan, untuk mengetahui apakah ada perkembangan tentang peristiwa tersebut. Pagi hingga siang, tak ada perkembangan berarti dan kebanyakan menunggu, tanpa jelas apa yang ditunggu.
Beruntung, tetap ada sisi lain yang bisa digali pada hari itu, yang bisa dijadikan bahan untuk diolah menjadi berita dan disajikan kepada pembaca. Hingga malam, baru kelar penyusunan beritanya.
Fyuh, fisik dan psikis benar-benar dihajar lahir dan batin, capek luar biasa. Tapi itulah risiko yang harus dijalani, sebagai konsekuensi atas pilihan profesi.
Nah, sekarang gembong teroris yang dicari sudah mati. Apakah ke depan, petualangan para jurnalis dalam memburu informasi terkait isu teroris juga usai? Entahlah … Pertanyaan itu tak akan bisa terjawab, karena peristiwa yang terjadi juga tak bisa diprediksi … Kalaupun sudah berakhir, petualangan dalam memburu informasi lain yang tidak berkaitan dengan isu teroris, tetaplah terjadi …
Berarti, siap-siap “dihajar” lagi …
Tetap semangat … never surrender …