Pertanyaannya, sampai kapan bebas asap? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. (penggalan dari postingan saya sebelumnya)
Saya sendiri tidak janji, bahwa saya tidak akan merokok lagi. Mungkin suatu saat, saya akan membutuhkan asap dari pembakaran daun tembakau itu untuk saya isap lagi. (juga penggalan dari postingan saya sebelumnya)
Sekarang saya sudah tahu jawaban pertama. Sampai kapan? Sebulan. Ya, cuma sebulan, saya bebas asap sejak saya berhenti merokok karena sakit dan dikasih obat bronkitis sama dokter.
Hari ini, Sabtu (8/3), ketika saya menulis postingan ini pukul 23.30, saya sudah menyulut lima batang rokok yang identik dengan dunia cowboy. Saar saya menulis kalimat ini, kepulan asap rokok menemani saya.
Kenapa cuma sebulan? Jawabannya ini. Saya sendiri tidak janji, bahwa saya tidak akan merokok lagi. Mungkin suatu saat, saya akan membutuhkan asap dari pembakaran daun tembakau itu untuk saya isap lagi.
Yup, beberapa jam sebelumnya, saya butuh asap rokok. Saya kedinginan. Liputan bencana alam banjir di Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo itu membuat saya gelisah.
Data belum komplet, kondisi cuaca tidak bersahabat, medan yang gelap, obyek yang saya ambil dengan kamera poket saya tak bisa terekam dengan baik, informasi yang masih sumir, dan beragam kondisi tak mengenakkan lainnya.
Saya akhirnya melangkah ke warung, membeli satu pak rokok cowboy, untuk menetralisir suasana hati. Lumayan. Beban saya sedikit terangkat bersama mengepulnya asap ke udara yang saya embuskan dari mulut, meski mulut saya terasa pahit. Rasa yang sudah sebulan kemarin tidak menghinggapi lidah saya.
Tapi saya tetap berniat bebas asap lagi. Mulai dari sekarang. Sampai kapan? Sampai saya membutuhkan kepulan racun itu lagi. Entah kapan.