Apa beda teater musikal dengan opera? Apa yang membedakan musikal Laskar Pelangi, dan—katakan—Turandot? Toh pada keduanya para pemeran menyanyi setiap saat.
Sebetulnya tidak ada batasan yang tegas antara opera dan musikal. Satu cara untuk membedakan, adalah artis opera biasanya berangkat dari penyanyi yang kemudian menjadi aktor, sementara artis musikal berangkat dari aktor yang bisa menyanyi. Musikal juga banyak adegan menari, sementara pada Opera nyaris tidak ada.
Beberapa musikal terinspirasi dari opera. Musikal Rent contohnya, adalah adaptasi dari musikal Italia, La Boheme. Tentu beberapa detail disesuaikan dengan jamannya. Penyakit TBC yang diidap tokoh utama La Boheme, diubah menjadi AIDS.
Di Broadway, New York, teater musikal menjadi tujuan wisata yang pantang dilewatkan. Pada kawasan ini, seni pertunjukan musikal menjadi industri hiburan yang besar dan menguntungkan. Rekor masih dipegang Phantom of The Opera, yang telah pentas nonstop 23 tahun sejak pertunjukan perdana tahun 1988.
Ada yang tak tergantikan dalam pertunjukan langsung. Emosi aktor terasa basah dan spontan, beda dengan film yang sedemikian rupa ditata sempurna. Permainan set yang tidak harus realistis, uniknya, justru menambah sensasi. Ketika Sunset Blvd ingin membenturkan tahun baru di mansion mewah versus tahun baru di apartemen sederhana tapi meriah, mansion sepi Norma Desmond diangkat hingga mengambang di udara. Lalu di bawahnya muncul set apartemen Archie.
Perubahan Beast menjadi pangeran tampan di musikal Beauty and the Beast, hanya mengandalkan kembang api dan tata cahaya yang cerdik. Tapi hasilnya tidak kalah mengesankan seperti film-film Hollywood yang sarat dengan efek komputer. Kondisi yang “basah”, spontan, dan berpeluang gagal justru membuat pertunjukan teater menarik.
Tentu tidak semua atraksi teater lancar. Musikal Spiderman yang sedianya perdana beberapa bulan lagi masih sering kacau. Pertunjukan akrobatik sang manusia laba-laba sering buyar gara-gara aktor pemeran Spiderman jatuh ketika mengayun ke arah penonton. Koran New York Times meledek kalau suatu saat akan muncul kaos merchandise bertuliskan “I Watched Spiderman, And Lived”.
Perkembangan teater musikal di Indonesia memang agak tiba-tiba. Antara 2010-2011 ada 3 pertunjukan musikal yang digarap profesional: Onrop! (Joko Anwar), Musikal Laskar Pelangi (Mira Lesmana) dan sebentar lagi Ali Topan Anak Jalanan (Ari Tulang dan Dian HP). Ini belum termasuk kiprah seniman Jogja yang berkreasi dengan Jogja Broadway.
Dengan cadangan kreativitas melimpah yang dianggurkan oleh modal, saya berharap Jakarta bisa menjadi episentrum musikal. Jika Singapura sekarang mengimpor musikal The Lion King, dengan kreativitas dan kesungguhan para pekerja seni kita, mudah-mudahan kelak Singapura mengimpor musikal Indonesia.
Anyway, besok saya akan menonton Lion King di Singapura. Perjalanan ini tidak disponsori, sehingga saya bisa seobyektif mungkin menulis reviewnya.
