
Gnomeo & Juliet adalah cara Hollywood mengekploitasi subyek yang telah letih didayagunakan. Sudah ada 3 film tentang Romeo & Juliet yang digarap Hollywood sejak tahun 1936, tidak termasuk film yang “terinspirasi” seperti West Side Story. Yang terbaru, pasti tidak mudah dilupakan bagi generasi 90-an, terutama adegan Dicaprio jatuh cinta dengan Claire Danes dari balik aquarium flourescent.
Tentu tidak salah menggarap mahakarya Shakespeare menjadi aktual bagi generasi ini. Lagipula siapa yang tidak tergoda menonton Gnomeo & Juliet, cerita tentang asmara dua gnome (patung kebun) dari dua keluarga yang bermusuhan. Dengan setting kota kecil Inggris dan musik Elton John, Gnomeo & Juliet nampak seperti resep yang manjur.
John Lasseter, pendiri Pixar, tidak sependapat.
Setelah Lasseter diangkat menjadi chief creative officer Disney, Gnomeo & Juliet yang sedianya digarap oleh Disney, dihentikan produksinya. Menurut analis film Jim Hill, Lasseter tidak yakin film ini akan sukses secara komersil. Film parodi Romeo and Juliet, dengan setting Inggris, dan musik dari jukebox Elton John, dianggap tidak memiliki pesona mainstream.
Lasseter juga khawatir Gnomeo akan dianggap terlalu “Shrek” karena sama-sama memparodikan kisah klasik.
Kemudian Miramax melihat potensi Gnomeo. Anak perusahaan Disney itu melanjutkan produksinya, tapi kali ini digarap oleh Rocket Pictures dan disutradarai Kelly Asbury, yang juga sutradara Shrek 2. Setelah Miramax dibubarkan oleh Disney, film ini diedarkan dengan bendera Touchstone, bendera Disney untuk film-film yang bukan film keluarga.
Dan sejujurnya, Gnomeo and Juliet adalah film yang baik. Romantika antara Gnomeo dari keluarga Capulet dan Juliet dari montague digarap menggemaskan. Apalagi dengan latar lagu “Hello Hello” yang dinyanyikan Elton John dan Lady Gaga. Ada keasyikan menikmati vokal klasik Elton yang diadu dengan nada selengekannya Gaga.
Adegan wajib Gnomeo (James McAvoy) memanjat pagar untuk merayu Juliet (Emily Blunt) tidak hilang. Beberapa bait Shakespeare tetap ada, bahkan pujangga Inggris itu muncul sebagai patung yang bisa berbicara. Kelly Asbury nampaknya juga bisa menahan diri dalam menjaga dosis parodi budaya pop, sehingga film ini tidak melelahkan seperti halnya Shrek 2.
Yang “hilang” adalah babak terakhirnya. Walaupun film ini sukses menyajikan kerumitan kisah Romeo dengan gaya baru, penutup cerita Gnomeo terasa lemah. Kerumitan ending Romeo and Juliet diterjemahkan dengan terburu-buru.
Dan setelah dirilis 45 hari, Gnomeo and Juliet akhirnya memperoleh 93 juta USD, hampir separto bruto 45 hari Tangled yang diproduksi Disney.