God works in mysterious way. Tapi bagi Habiburahman El Shirazy, God works in sinetron’s way. Dan pengarang Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih itu kembali mengulang resep yang identik di film Dalam Mihrab Cinta.
DMC dimulai dengan Syamsul (Dude Herlino) yang diusir dari pesantren karena difitnah mencuri oleh Burhan (Boy Hamzah). Pulang ke keluarganya, alih-alih dibela, Syamsul justru dimarahi Ayahnya dan ditempeleng oleh kedua kakak laki-lakinya dengan sound effect semutakhir film kung fu. Perlakuan ini akhirnya memaksa Syamsul melarikan diri ke Semarang, dan kemudian Jakarta. Di sana, Syamsul benar-benar menjadi copet, hingga suatu hari dia mendapatkan dompet milik Sylvie (Asmirandah) yang kelak akan mengubah hidupnya 180 derajat.
Film yang disutradari oleh pengarangnya ini terlalu banyak mengandung kebodohan blooper dan kebodohan plot. Tidak ada salahnya berusaha memaafkan Habiburahman yang masih hijau di bidang penyutradaraan melakukan kebodohan blooper, walaupun beberapa—seperti berita copet di Semarang masuk headline koran Jawa Timur—terlalu absurd. Akan tetapi kebodohan plot sangat susah diterima.
Seperti misalnya nasib Syamsul yang bisa berubah dari copet menjadi ustad dengan sangat cepat dan ajaib, tanpa kerja keras yang istimewa. Seperti juga asmara segitiga Syamsul, Sylvie, dan Zizi yang diselesaikan dengan praktis oleh Habiburahman. Pernikahan memang kembali menjadi tema sentral film ini, setelah semua masalah Syamsul terselesaikan di pertengahan film, maka Dalam Mihrab Cinta dilanjutkan dengan episode Syamsul mencari istri. Dan sama seperti AAC dan KCB, pernikahan itu memang tanpa pacaran.
Nampaknya nikah tanpa pacaraan inilah yang selalu menjadi benang merah semua dongeng Habiburahman. Dan anak muda jaman sekarang harus waspada dari propaganda ideologi yang semacam itu.
