Pagi-pagi Mbak Ami, PRT keluarga saya heboh. Wajahnya berbinar-binar sambil menunjukkan selipat kupon dari bungkus kopi Kapal Api. Tertulis kalau ia memenangkan satu buah mobil Mazda.
Kupon itu dicetak menggunakan printer inkjet, kelihatan dari tinta yang tidak rata. Juga tertulis kalau pemenang harus membayar pajak hadiah sebesar 20%. Sukar mengakui kalau itu bukan penipuan. Tetapi siapapun yang melihat keriangan Mbak Ami menceritakan kemenangannya, pasti tidak punya hati untuk mengatakan yang sebenarnya. Kita cuma bisa mewanti-wanti kalau itu bisa saja cuma penipuan.
Kita mencoba menelpon hotline Kapal Api seperti yang tertera dalam websitenya, tetapi tidak diangkat. Akhirnya Mbak Ami menelpon nomor yang tertera di kupon. Di nomor itu, suara laki-laki kami dengar senyap-senyap. Ia minta didikte nomer PIN yang tertera di kupon itu, dan setelah dicek di komputernya, laki-laki itu mengucapkan selamat kepada Mbak Ami. Ibu dua anak itu memenangkan sebuah mobil Mazda. Begitu katanya.
Selanjutnya laki-laki itu menjelaskan bahwa hadiah akan dikirimkan ke rumah, tetapi Mbak Ami harus mentransfer uang jaminan sebesar 4,75 juta. Ini tidak dapat dinegosiasi, jaminan tidak bisa dibayarkan setelah mobil itu sampai. Ia meminta uang 4,75 juta itu ditransfer ke rekening rahasia Kapolri di Bank Mandiri dengan nomor rekening 127 000 561 666 7, atas nama Taufik Hidayat, SE. Laki-laki itu merapal “aturannya” dengan ketukan-ketukan tetap. Agak intimidatif memang.
Bagi saya, persyaratan itu jelas tidak masuk akal. Tapi bagi mbak Ami hadiah ini adalah berkah. Jika mobil hadiah itu dijual, ia bisa segera menyelesaikan kredit motor dan angsuran tanah. Pendapatannya bisa dialokasikan untuk selain membayar kredit. Di keluarga kami, Mbak Ami adalah simbol working class yang wajib menjadi panutan. Bersama suaminya yang tiap malam berjualan mie gerobak, ia menaikkan kesejahteraan keluarganya. Di desanya, ia sudah punya rumah gedong, dan sepetak sawah. Puteranya sekarang sekolah di SMP yang cukup bagus di Jogja.
Penipuan selalu menyakitkan. Dan sangat melukai mereka yang berusaha dengan bekerja. Kita yang tiap hari dihujami spam dan email money laundering dari Rwanda, mungkin langsung tahu kalau itu penipuan. Tapi bagi Mbak Ami, itu adalah harapan. Harapan yang kemudian kosong.
Siang harinya, orang rumah berhasil mendapatkan nomor telepon hotline Kapal Api yang lain. Operatornya menjelaskan bahwa kupon itu memang penipuan. Kapal Api tidak akan memungut uang dari pemenang (jawaban serupa dari Twitter Kopi Kapal Api).
Saya tidak tahu bagaimana Mbak Ami ketika mengetahuinya. Mungkin dia juga tidak apa-apa. Esok paginya saya bertemu dengannya, ia tetap ceria seperti biasanya.
