Agak mengejutkan ketika Grand Indonesia, mall prestise di bunderan HI itu, mengadakan kontes retweet.
Saya tidak anti terhadap bisnis di twitter, tapi saya terganggu dengan bisnis yang menciptakan sampah. Game twitter seperti yang diadakan @SoyJoy dan @hanyaoreo itu masih mendingan, karena ada nilai yang ditambahkan. Dengan mengarang tweet yang menarik untuk memenangkan hadiah, para peserta menambahkan kreativitasnya di twitter. Demikian juga lomba mengupload foto dan video seperti yang dilakukan @vaselineman. Dan kita musti menghargai usaha-usaha kreatif, karena negeri ini masih kekurangan kreativitas.
Tapi lomba retweet (RT) tidak menambahkan apapun. Lomba retweet hanya mengulang tweet sponsor yang belum tentu bernilai, tapi tetap di-RT karena iming-iming ini dan itu. Ini agak mirip dengan kampanye email berantai dan sebagian besar blog adsense, yang pada akhirnya menjejali internet dengan sampah.
Bukankah tujuan utama mempopulerkan merek telah tercapai? Populer iya. Tapi populer sebagai apa? Julia Perez dan Syaiful Jamil juga terkenal dan dipercakapkan setiap hari, tapi apakah mereka dikenal sebagai aktor dan penyanyi?
Apakah Anda ingin merek dikenal sebagai Jupe ataupun Syaiful Jamil… atau sebagai Dian Sastro dan Krisdayanti Sherina?
