Hari minggu kemarin, dengan tekad ingin menenangkan jiwa, saya berangakat ke Pantai Wediombo, sekalian pulang kampung. Rencana mau berangkat pagi, tapi ada 1 server yang rewel, minta di belai dulu. Akhirnya siang itu, setelah menunggu hujan reda, ku bulatkan tekad berangkat ke sana.
Perjalanan sangat mengasikaan, di iring mendung dan aroma segar udara setelah hujan. Saya mendaki bukit patuk dengan sepeda motor. Suasana nyaman mulai terasa ketikan melihat tunas2 pohon menghijau di basahi tetes2 air hujan. Meliuk di antara kendaraan2 lain yang merayap menaiki bukit patuk yang menanjak dan berliku membawa sensasi tersendiri.
Sampai di Wonosari saya teringat akan warung makan nasi merah jirak, maka setelah pasar wonosari saya terus melihat ke arah kanan, katanya lokasinya sekitar 2 Km timur pasar wonosari. Tapi kok ndak ketemu2 ya, weh dah kelewat po, pikir saya. Tak pikir2 rasanya belum melihat warung makan dengan dinding papan bercat biru muda selepas pasar wonosari.Untung saya teringat kalau tidak salah selepas wonosari itu adanya jembatan di daerah Semanu, yah sekitar 5/6 Km dari wonosari, mengapa kok teringatnya jembatan ? Karena lokasi warung itu katanya dekat jembatan jirak. Dengan itikad baik, saya meluncur ke semanu, dan tepat seperti perkiraan saya, memang ada warung di sisi barat jembatan dengan ciri2 seperti rumah makan jirak yang terkenal itu. Tapi saya masih kenyang jadi ndak jadi mampir (wong sangune mepet
, pulang ke rumah ini juga dalam rangka membahagiakan ortu, masa anaknya yang di jogja ndak pernah minta uang, rak yo sedih ortu saya, sebagai anak yang berbakti, saya terpanggil untuk sowan dan merampok apa yang ada
.)
Perjalanan saya lanjutkan, dengan suasana khas pegunungan, saya menju ke wediombo, setelah tanya sana sini, akhirnya sampai juga, pantai itu tidak terlalu jauh dari daerah saya Wonogiri. Wong lewatnya juga dari rongkop (selatan pracimantoro) trus ke timur lalu belok ke kanan ke arah barat daya (kalau pertama dulu datang lewat jalur selatan, dari imogiri terus ketimur lewat drini, ngobaran, baron krakal, kukup, sepanjang trus ke timur sampai di wedi ombo lalu ke sadeng baru pulang ke Wonogiri).
Sampai di sana masih seperti pertama kali saya datang, dulu saya ndak sempat turun ke pantai, hanya melihat dari parkiran, lah bagaimana mau menuruni tangga, wong pada saat itu aku sedang puasa dan kelelahan setelah menyusuri jalur selatan wonosari. Maka pada hari ini lain ceritanya, dengan perlahan namun pasti aku mulai menuruni tangga menuju pantai dengan pasir putih itu. Kutelusuri pantai wediombo (lebih tepat teluk barangkali), di mulai dari sisi selatan sampai utara. Di sisi selatan masih ada batu2 besar yang tegar menentang ombak, lalu di bawanya ada karang yang di huni makhluk2 laut yang lucu2. Aku duduk di situ sambil menikmati hembusan angin laut dan deru ombak memecah karang. Melihat aneka makhluk laut bersenda gurau.
Lantas aku menuju sisi utara, weh kok ya apes, di tengah perjalan saya bertemu dengan beberapa pasang muda-mudi yang sedang pada mojok. Ada yang di bawah pohon, ada yang di atas batu ada pulang yang di antara karang. Sontoloyo, pada ndak ngerti kalau saya ini lagi pengen menyucikan diri po, kok malah do pamer, bermesraan di tempat umum, mau tak timpuk sendal tapi nanti mau jalan pake apa? kan sakit kalau pas jalan2 nanti nginjak landak laut. Dengan membesarkan jiwa saya lalui godaan itu dan menguatkan tekad menyusuri pantai menuju sisi utara, melihat pak nelayan memarkir perahunya.
Melihat pak nelayan memindahkan perahu dan berangkat ke laut benar2 membuka pandangan saya, mereka adalah pekerja keras yang berani mengambil tantangan demi hidup mereka. Sedang aku, sedikit2 sudah mengeluh, mungkin sudah terbiasa dengan suasana kota sehingga bergerak sedikit saja malas, ada tantanga sedikit saja langsung putar haluan. Padahal aku ini wong ndeso, yang seharusnya sudah terbiasa dengan tantangan hidup.
Tak terasa waktu sudah senja, dan WEW sunset di wediombo !, Matahari yang memerah di ufuk barat, sedikit tersembunyi di antara awan kelabu. Lalu ray of light dari matahari yang menyusup di antara awan. Benar2 pemandagan yang sangat indah, di tambah angin yang bertiup perlahan, di iringi riuh ombah yang tak seberapa besar. Suatu senja yang menawan.