Setelah semedi tapa brata dan rawe-rawe rantas malang-malang putung (duk duk duk…. ooong), akhirnya saya memperoleh ilham untuk bahan blog saya.
Yah saya akan coba membahas tentang efek domino dari perasaan kita terhadap lingkungan sekitar. Suasana hati itu bisa menular, itu kesan pertama yang saya peroleh. Bagaimana tidak, coba kita lihat orang yang sedih, kita tentunya juga merasa sedih demikian juga melihat orang yang sedang senang. Efek ini tidak hanya menyerang manusia saja, bahkan binatang dan tumbuhan juga ikut terjangkit dan lebih parahnya, benda mati juga ikut di libasnya.
Masaru Emoto dalam “The Hidden Messages in Water” membuktikan dengan kristal airnya. Bahwa perasaan dan harapan kita dapat di tangkap oleh benda di sekitar kita (dalam hal ini kristal air, tapi saya kok berpikir bahwa semua benda bisa menerima getar rasa jiwa kita). Lalu saya pernah mendapat cerita dari pak ustad tentang pohon mangga. Karena yg punya bilang pada pohon itu kalau lelah berbuah, maka ndak usah berbuah saja. Lha kok si pohon menurut saja dan istirahat berbuah.
Lantas dari pengalaman saya mengail ikan (hoby yg sekarang jarang di lakukan
), dengan perasaan yg tenang, ikan lebih tertarik pada umpan kita. Sebaliknya kalau perasaan kita lagi kalut sepertinya ikan-ikan pada menjauh.
Dari fenomena yang terjadi td saya jadi berkesimpulan bahwa perasaan kita itu akan mempengaruhi lingkungan di sekitar kita, lantas lingkungan mempengaruhi linkungan yg laen dan pada akhirnya lingkungan tadi akan mempengaruhi diri kita seniri, rak yo ini sejalan dengan efek domino, dari satu sistem mempengaruhi sistem yg laen dan seterusnya sampai pada akhirnya kembali juga ke sistem itu.
Kalau boleh saya berpendapat tentang benda2 pembawa keberuntungan (jimat menurut mbah kakung ). Saya rasa ini lebih di akibatkan dari efek psikologis (alam bawah sadar/ hati nurani/ indra keenam pokoe sebangsa itu lah) yg punya. Dia merasa bahwa dia beruntung maka dengan pancaran aura keberuntungan pemikirannya inilah alam akan merespon balik sehingga dia menjadi orang yg beruntung. Inipula mengapa biasanya benda2 ini di pajang di dekat pintu utama atau di ruang utama, dengan melihat benda ini waktu datang/pergi ke rumah maka pemiliknya akan di ingatkan untuk feel lucky. Ini sejalan dengan petuah simbah, bahwa kita harus perpikir positif( kalau ada kesusahan biasanya langsung bilang “untung …..”) nah dengan pikiran positif inilah para nenek moyang mengajarkan tentang hubungan perasaan dan pemikiran kita terhadap apa yang akan kita peroleh.
Kalau wiliam shakespears bilang “apa arti sebuah nama”, kalau mbah kakung bilang, “nama itu adalah harapan dari orang tuanya”, dengan nama itu maka dia di harapkan berpikir sepeti itu karena setiap di panggil orang dia akan ingat arti namanya. Ndak heran lantas nama-nama orang jawa terkesan pasaran seperti basuki, slamet, sugeng dll. Bukan karena ndak kreatif tapi karena pengharapan itu lebih penting.(weh kok malah jeneng barang di gawa
)
Rasakan indahnya taman bunga dengan aneka warna di selimuti hijaunya daun dan rerumputan serta cium mesra kupu2. Tegarnya gunung dengan liuk sungai di dampingi persawahan yang menghijau serta gemericik air mengalir di sela bebatuan lalu damainya laut luas membiru di selingi riuh ombak memecah karang dan ramai camar menari.
Bandingkan dengan pedihnya udara kota di sanding gas buang kendaraan dan pabrik. Tangis sungai di nodai limbah pabrik dan hausnya tanaman yang meranggas karena kekeringan.
Pada akhirnya mari kita mulai untuk bersikap positif dan bertindak positif sehingga lingkungan kita akan nyaman untuk kita tinggali.