Kawasan Kota Tua, terutama Taman Fatahillah, terus berbenah. Meski mengundang banyak kontroversi, agaknya hal ini tidak berlaku bagi segelintir lapisan masyarakat yang menggantungkan kehidupannya di kawasan ini.
Penutupan akses kendaraan bermotor ke dalam kawasan Taman Fatahillah, membuat kawasan ini menjadi nyaman untuk dikunjungi. Jumlah pengunjung pun meningkat, yang ujung-ujungnya menjadi “lahan baru” mencari nafkah.
Mulai dari penjaga parkir, penjual kopi, penjual suvenir, tukang ojek sepeda, tukang tato, hingga kelompok jathilan, menggantungkan hidupnya di taman ini. Meski terkesan sedikit semrawut, namun tidak mengurangi antusiasme pengunjung untuk menikmati suasana.
Semestinya program revitalisasi kawasan Kota Tua juga memasukkan program penataan para pedagang dan mereka yang mencari nafkah di kawasan ini, sehingga bisa menjadikan Taman Fatahillah menjadi salah satu tujuan wisata Jakarta yang nyaman dan sedap dipandang mata.

Pembuat tato sementara banyak ditemukan di sebelah barat Museum Sejarah Jakarta

Penjaja sepeda onthel sewaan menjajar rapi sepeda mereka

Sekelompok anak menyaksikan aksi kelompok Jathilan beraksi

Penjual minuman botol banyak ditemukan di pinggiran Taman Fatahillah

Penjual aneka makanan berjajar di salah satu sudut Taman Fatahillah

Kawasan Taman Fatahillah harus steril dari kendaraan bermotor, maka tukang parkir pun kebanjiran rezeki

Ada cafe, ada yang kaki lima, silakan pilih yang mana

Penjual kopi keliling macam ini siap mengantarkan segelas kopi hangat kepada pembeli

Tak perlu khawatir si kecil merengek, tukang Odong Odong siap menghibur si buah hati

Tukang Es Potong pun ikut menikmati suasana Taman Fatahillah

Dengan 3 ribu rupiah, asah otak Anda dan menangkan 2 bungkus rokok!

Dua orang pengunjung tengah memilih kacamata yang cocok

Dengan seribu rupiah, masukkan gelang ke dalam mulut botol tanpa menjatuhkan paku di atasnya, menangkan ponsel sebagai hadiahnya
Tulisan ini juga dimuat di blog FotoKita National Geographic Indonesia.
(8 unread)








