Pemuda itu menyukai saat langit berubah gelap lalu rintik air turun pelan dan makin deras. Bagi dia, hujan selalu membawa kesegaran yang terus berulang setiap kali sehabis hujan.
Tapi hidup adalah kesetimbangan, dan pemuda hujan yang sejuk membutuhkan hangat matahari. Dia menunggu. Perempuan matahari. “Berdua kami akan menciptakan pelangi,” kata pemuda itu suatu ketika.
Pada sebuah natal, sang pemuda bertemu dengan seorang gadis. Bersama mereka menghias pohon natal. Dengan pita, lonceng perak, buah cemara juga kotak kado kecil warna merah menyala. Mata pemuda itu berkilauan. Seperti warna tetes hujan saat tersentuh cahaya matahari.
Satu, dua, tiga natal berlalu dan pemuda itu terus berpikir, inilah perempuan matahari yang selama ini telah dia cari.
Tapi gadis itu bukan perempuan matahari. Dia adalah gadis pohon natal dengan bintang terang di pucuknya. Cahayanya hangat, tapi tak seterang matahari. “Carilah perempuan mataharimu, aku kini tidak mencintaimu lagi,” ujar gadis pohon natal.
Kalau kau pergi ke kota hujan, sempatkanlah pergi ke tempat rimbun penuh pohon itu. Mungkin pemuda itu masih disana, mencari matahari untuk menciptakan pelanginya.
_terinspirasi dari blog ini_
(2 unread)