
Baru tulisan kedua tentang pergi ke Dublin, tapi sayah langsung ke bagian paling heboh. 
Ini pertanyaan banyak orang.
“Kok bisa dirimu ketinggalan pesawat? Kok bisa ngilang..”

Jadi..
Dan sayahpun ditinggal pesawat.
Pesawat Lufthansa yang sedianya membawa sayah dan Mas Iman pulang ke Jakarta, harus transit dulu di Frankfurt Airport. Karena pesawat selanjutnya masih sekitar 4 jam lagi, kami berdua memutuskan ketemuan di Gate Boarding. Misah. Jalan-jalan sendiri.
Dan, sayah tiba di gate C16 – Frankfurt Airport, pukul 21.05.
Sampe disana, sepiii banget..
Petugas cewek Lufthansa berhidung besar bertanya, “Mau ngapain, Mbak?”
Sayah tunjukkan tiket, “Mau check in pesawat ini lho..”
Dan si Mbak hidung gedhe berkata,
“Miss, this flight is already gone..”
HAH..??!!!
Dan sayah baru sadar sesadar-sadarnya, kalo di Jerman waktu itu bukan pukul 9 malam.
Tapi udah pukul 10 malam.
Oh.. 
Saya lupa merubah jam tangan dari waktu London ke waktu Jerman.. 
Jd pelajaran berharga adalah, selalu ingat waktu negara kunjungan kita.
DAN SEGERA UBAH JAM TANGAN ANDA..!! 
Sayah yang bertalenta ceroboh benar-benar lupa kalau London dan Jerman itu beda waktu.. 
Dan sayah kok ya ndak denger pengumuman apapun.. 
Beginilah nasib kuping gagap Enggres.
Lalu setelah itu?
Nah, abis tau pesawat udah pergi, rasanya blank out banget.
Mampus, pikir sayah.
Ini negara apa, ndak ngerti pula bahasa sini.
Keluar Airport? Sayah ndak punya visa Jerman.
Tiket baru? Aduh. Gawat. Duit mepet.
Toko-toko di Airport semua udah tutup.
Koin Euro terakhir sudah habis pula buat beli coklat pesanan.
Ngenet?
Wifi Airport cuma bisa dipake kalo punya credit card.
Anjungan komputer berkoneksi cuma bisa digunakan dengan koin Euro.
Handphone?
Pulsa nomer lokal London udah habis sama sekali.
Jangan tanya pulsa XL sayah.
Dan Mas Iman pasti tadi khawatir mencari sayah.

Mampus.
Mampus.
Dalam kondisi panik berat, sayah meninggalkan Gate C-16 (yang jauhnya ya ampun..) ke Lufthansa Service Centre.
Pokoknya ini tiket harus diurus dulu, pikir sayah.
Perkara tidur gampang.
Toh jaman kuliah tidur di mesjid antah-berantah sendirianpun pernah dilakoni.
Lufthansa Service Centre masih penuh orang walaupun hampir tengah malam.
Ngantri sekitar 1 jam.
Dan dilayani dengan malas-malasan karena memang para petugasnya semua udah ndak sabar pengen pulang.
Bahkan pinjem telpon pun mereka ogah ngasih.
Sambil ngemis-ngemis, sayah bilang harus menghubungi keluarga di Indonesia.
Akhirya (entah karena luluh entah karena sebal), dikasih juga ituh telpon walaupun cuma boleh 3 menit pemakaian.
Yang terpikir pertama adalah menghubungi Pakdhe Mbilung, karena pasti dia tau kondisi Frankfurt Airport dan penerbangan Lufthansa.
Tapi berhubung di Indonesia pasti udah jam 3 pagi, ndak ada telpon sayah yang diangkat.
Sayah beli Internasional Calling Card di mesin kartu seharga 20 Euro.
Itu uang terakhir.
Dan ternyata ndak bisa pula dipake di mobile phone.
Ini artinya sayah ndak bakal bisa menghubungi siapapun.
Great.
Berita bagusnya, sayah ndak perlu bayar tiket apapun.
“You shouldn’t pay anything for this new ticket. Because we want to go home,”
begitu kata si Bapak petugas Lufthansa yang galaknya amit-amit.
Ndak nyambung?
Biarinlah.
Yang penting gratis.
Alhamdulillah.
Ini belum ditambah ada adegan ngamuk antara petugas Lufthansa dan customer yang ndak bisa keluar bandara karena visa ditolak.
Sinetron bener sih hidup inih.. 
Frankfurt Airport adalah bandara super besar karena dipakai untuk transit puluhan sampai ratusan pesawat dari berbagai negara tiap harinya.
Dan banyak yang harus menginap di bandara karena jadwal pesawat selanjutnya harus menunggu esok harinya.
Tapi tetep aja, bandara sepiii..
Karena kursi panjang rata-rata sudah dikuasai orang, sayah ambil kursi-kursi kosong yang ada di kafe.
Asal badan bisa nggeletak lah.
Tapi susah rasanya memejamkan mata sambil menjaga dua tas.
Sayah ndak bisa tidur sampe pagi.
Udara dalam bandara sangat dingin.
Dan kepala rasanya masih blank out berat.
Pukul 7 pagi (waktu Jerman), telpon masuk.
Pakdhe Mbilung was the first man who called me after I missed my flight.
Dan jangan tanya perasaan sayah denger suara si Bapak tua inih.
Rasanya ketegangan sayah terangkat hampir dua pertiganya.
Lega.
Sayah terbata-bata bercerita panjang kali lebar kali tinggi sambil menahan luapan rasa dan air mata.
Siyal.
Satu pantangan hidup sayah langgar.
Sepanik-paniknya sayah, sesedih-sedihnya hidup, memalukan betul buat terlihat lemah di tengah kafe penuh pengunjung kayak begini.
Tapi ya memang sengsara betul ngerasa sendirian waktu kondisi panik berat di tengah kata dan kalimat asing, di tengah orang tak dikenal, di tempat yang baru kedua kali sayah injak pula.
Tanpa bisa berbagi dengan siapapun.
Menjelang siang, kepala semakin ringan, dan ketegangan semakin hilang.
Ritual ketawa dan banci kenalan pun pulih.
Sayah sempet ngobrol panjang lebar sama cewek Turki yang mengundang sayah ke rumahnya di Florida.
Sayah sempet kenalan sama pria-pria ganteng Israel yang dengan baiknya menjaga tas-tas sayah.
Lalu ada pula si penjaga kafe yang ternyata orang Medan.
(Horeee..!! Ketemu orang Endonesaaa..!!)
Menggelandang 24 jam di Frankfurt Airport, sayah punya tempat favorit buat nongkrong dan ngobrol.
Gate B 60-62.
Karena disitu banyak smoking room.
Bangku-bangku panjang juga bertebaran, siap buat ditiduri sewaktu-waktu.
Aih.
Lalu sekarang gimana, Tik?
Sekarang mah, kalo orang tanya, sayah bisa ketawa-ketawa. 
“Nyasar dan ngilang itu fiturnya jalan-jalan kok,” begitu ngelesnya sayah.
Hihihi..